Rabu, 17 Agustus 2011

Australia

Australia, resminya Persemakmuran Australia, adalah sebuah negara di belahan selatan yang terdiri dari daratan utama benua Australia, Pulau Tasmania, dan berbagai pulau kecil di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Negara-negara yang bertetanggaan dengannya adalah Indonesia, Timor Leste, dan Papua Nugini di utara; Kepulauan Solomon, Vanuatu, dan Kaledonia Baru di timur-laut; dan Selandia Baru di tenggara.
Kira-kira 40.000 tahun sebelum pendudukan bangsa Eropa pada akhir abad ke-18, Australia telah dihuni oleh Aborigin, yang menggunakan salah satu dari 250 kelompok bahasa.
Pada tahun 1606, imigran Eropa yang datang ke Benua Australia adalah orang-orang Belanda. Namun, di akhir abad ke-18, Inggris menduduki benua ini dan menjadikannya sebagai tempat pembuangan para pelaku kriminal.Pada pertengahan abad ke-19, ditemukan tambang emas di Australia sehingga benua itu pun ramai didatangi para imigran. Sejak itu pula, mereka memperjuangkan kemerdekaan untuk mengatur sendiri Australia, terlepas dari kontrol Inggirs. Hingga kini, Australia tergabung dalam Persemakmuran Inggris
Setelah ditemukan oleh penjelajah Belanda pada 1606, paro timur Australia diaku sebagai milik Britania pada 1770 dan mulai diduduki sejak penentuan koloni tahanan di New South Wales, yang secara resmi didirikan pada 7 Februari 1788 (meskipun kepemilikan formal baru dinyatakan pada 26 Januari 1788). Populasi bertambah secara statis selama beberapa dasawarsa; benua ini dijelajahi dan setelah itu didirikanlah lima Koloni Mahkota lagi yang berpemerintahan mandiri.
Pada 1 Januari 1901, keenam koloni ini berubah menjadi federasi dan didirikanlah Persemakmuran Australia. Sejak zaman federasi, Australia telah memelihara sistem politik demokrasi liberal yang stabil dan menjadi bagian dari dunia persemakmuran. Populasinya sebanyak 22 juta jiwa, yang hampir 60%-nya terpusat atau berada di dekat pusat-pusat pemerintahan negara-negara bagian di daratan utama; yakni Sydney, Melbourne, Brisbane, Perth, dan Adelaide. Ibu kota negara ini adalah Canberra, di Teritorial Ibu Kota Australia. Hampir 56% populasi Australia menetap di Victoria atau New South Wales, dan hampir 77% menetap di pantai timur daratan utama.
Sebagai sebuah negara maju yang makmur, Australia adalah ekonomi terbesar ke-13 di dunia. Australia berperingkat tinggi dalam banyak perbandingan kinerja antarbangsa seperti pembangunan, mutu kehidupan, perawatan kesehatan, harapan hidup, pendidikan umum, kebebasan ekonomi, dan perlindungan kebebasan sipil dan hak-hak politik. Australia adalah anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, G-20 ekonomi utama, Negara-Negara Persemakmuran, ANZUS, Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi, Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik, Forum Kepulauan Pasifik, dan Organisasi Perdagangan Dunia.

Australia berasal dari kata australis yang dalam bahasa Latin berarti selatan. Negara ini dalam ragam percakapan sering disebut sebagai Oz sejak awal abad ke-20. Aussie adalah istilah percakapan bagi "orang/bangsa Australia".
Legenda-legenda tentang Terra Australis—"tanah asing di Selatan"—berasal dari zaman Romawi dan merupakan tempat yang lumrah dalam geografi abad pertengahan, meskipun tidak berdasarkan pada pengetahuan benua terdokumentasi manapun. Temuan bangsa Eropa berikutnya, nama-nama untuk daratan luas Australia seringkali dirujuk sebagai Terra Australis yang masyhur.
Penggunaan terdini kata Australia yang terdokumenkan dalam bahasa Inggris adalah pada tahun 1625 dalam "A note of Australia del Espíritu Santo, yang ditulis oleh Master Hakluyt" dan diterbitkan oleh Samuel Purchas dalam Hakluytus Posthumus, sebuah kesalahan dari nama Spanyol asli Austrialia del Espíritu Santo untuk sebuah pulau di Vanuatu.Bentuk kata sifat bahasa Belanda Australische digunakan dalam buku berbahasa Belanda di Batavia (Jakarta) pada tahun 1638, yang merujuk pada daratan yang baru saja ditemukan di selatan. Australia kemudian digunakan dalam terjemahan tahun 1693 dari Les Aventures de Jacques Sadeur dans la Découverte et le Voyage de la Terre Australe, sebuah novel Perancis tahun 1676 karya Gabriel de Foigny, di bawah nama pena Jacques Sadeur.Merujuk seluruh wilayah Pasifik Selatan, Alexander Dalrymple menggunakannya dalam An Historical Collection of Voyages and Discoveries in the South Pacific Ocean pada 1771. Di akhir abad ke-18, nama tersebut digunakan untuk merujuk Australia secara lebih spesifik, dengan pakar botani George Shaw dan Sir James Smith menulis "tanah yang luas, atau tepatnya benua, Australia, Australasia, atau Belanda Baru" dalam bukunya dari tahun 1793 Zoology and Botany of New Holland, dan James Wilson menyertakannya pada sebuah diagram dari tahun 1799.
Nama Australia dipopularkan oleh penjelajah Matthew Flinders, yang memaksakannya agar dapat diadopsi secara resmi sejak tahun 1804. Ketika menyiapkan manuskrip dan diagramnya untuk sebuah karya dari tahun 1814, berjudul A Voyage to Terra Australis, dia diikuti oleh rekannya, Sir Joseph Banks, untuk menggunakan istilah Terra Australis karena istilah tersebut adalah yang paling merakyat. Flinders melakukan hal itu, tetapi dia memberikan catatan kaki:
"Aku mengizinkan diriku sendiri untuk melakukan sembarang inovasi terhadap istilah asli, tampaknya ia akan berganti menjadi Australia; sebab lebih terasa nyaman di telinga, dan ia adalah perpaduan nama-nama bagian bumi lain yang sama hebatnya."
Inilah satu-satunya kemunculan kata Australia di dalam naskah itu; tetapi dalam Lampiran III, General remarks, geographical and systematical, on the botany of Terra Australis karya Robert Brown, Brown menggunakan bentuk kata sifat Australian di dalam makalah itu, penggunaan yang pertama dikenal dalam bentuk itu. Meskipun konsepsi yang merakyat, buku tersebut tidak bersifat instrumental dalam pengadopsian nama itu: nama itu secara bertahap mulai dapat diterima selama sepuluh tahun berikutnya. Lachlan Macquarie, seorang Gubernur New South Wales, menggunakan kata ini dalam surat-suratnya yang dikirimkan ke Inggris, dan pada 12 Desember 1817 Macquarie mengatakan kepada Kantor Kolonial bahwa kata itu diadopsi secara resmi. Pada 1824, Angkatan Laut Inggris setuju bahwa benua itu secara resmi akan disebut sebagai Australia.

radio Australia - Sejarah Singkat RASI

Radio Australia pertama kali mengudara dari studio Australian Broadcasting Commission (ABC), Sydney pada tanggal 20 Desember 1939, dengan pidato peresmian oleh Perdana Menteri Robert Menzies.  Radio Australia Siaran Bahasa Indonesia (RASI) pertama kali mengudara pada tanggal 10 Agustus 1942.  Pada saat itu, kepulauan Nusantara sudah lima bulan diduduki Jepang, sehingga betapa sukar dan berbahayanya rakyat Indonesia untuk dapat mendengarkan berita.

Pada kenyataannya, melalui Radio Australia, banyak pendengar yang dapat mengikuti  jalannya pertempuran di luar Indonesia, terutama di Pasifik.  Pendengar dapat  mengetahui berbagai perkembangan perang seperti mulai bergerak majunya pasukan Sekutu yang dapat memukul mundur pihak Jepang di berbagai daerah, mendengar berita kembalinya Jendral MacArthur Ke Filipina, pendaratan Sekutu di Okinawa, penggempuran kota Tokyo dan pemboman Hiroshima dan Nagasaki yang menjadi babak akhir Perang Pasifik, serta menyerahnya Jepang.

Dari Radio Australia pula, pendengar mengetahui peristiwa yang terjadi di Australia saat itu, di antaranya kegiatan warga Indonesia di Melbourne, Sydney, Brisbane dan kota lainnya menjelang kemerdekaan RI, termasuk  berita adanya dukungan dari kaum buruh pelabuhan Australia atas tuntutan kemerdekaan Indonesia dengan memboikot kapal-kapal Belanda, khususnya yang membawa senjata.

Pada bulan Desember 1941 perang beralih ke kawasan Pasifik dan awal tahun 1942 Jepang telah menduduki Filipina.  Pada tanggal 8 Maret, Jepang mulai memasuki Indonesia.  Pada bulan Mei 1942 dimulai siaran dalam bahasa Jepang yang terutama ditujukan kepada satuan-satuan tantara Jepang di Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik.

Pemerintah Hindia Belanda mengungsi ke Australia, dan Melbourne dijadikan pusat kegiatannya. Pada saat itu dibentuk Jawatan Penerangan NIGIS (Netherlands Indies Government Information Service), lengkap dengan bagian monitoring yang menjadi kepentingan pihak Sekutu.   Badan ini berkedudukan di Melbourne dan Broome, Australia Barat.

Setelah Jepang menyerah dan Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, NIGIS pun bubar.  Pada tanggal 1 Maret 1946 siaran dalam Bahasa Indonesia secara resmi diambil alih oleh Departemen Penerangan Australia dan menjadi Seksi Indonesia, sebagai salah satu bagian dari Radio Australia, menggantikan Suara Australia.

Setelah Indonesia merdeka,  timbul kebutuhan untuk saling mengenal dan bekerjasama antara Australia dan Indonesia sebagai negara bertetangga.  Untuk mewujudkannya, digunakan sarana radio yang dapat secara langsung digunakan sebagai salah satu media penerangan mengenai hal-hal yang terjadi di Australia, baik tentang kehidupan rakyat Australia maupun perkembangan negara ini di berbagai bidang.

Pada tanggal 1 April 1950, Radio Australia diambil alih oleh ABC selaku badan induknya.

Kini, seiring dengan perkembangan teknologi dan pendengar radio mulai meninggalkan gelombang pendek, RASI pun mencari mitra-mitra dari radio FM di seluruh Indonesia untuk menyiarkan siarannya.  RASI juga merambah ke dunia internet dan menyiarkan acaranya melalui radio streaming dan Podcast.